Susu Anakku Menghilang dari Pasaran

September 3rd, 2008 by agusirwanto

Nursoy
Betapa terkejutnya saya dan istri ketika memasuki satu persatu
supermarket dan hypermarket di kota Malang untuk mencari susu soya yang
biasa diminum anak kami, dan kami tidak menjumpainya. Nursoy produk
dari Wyeth ini ketika itu sudah tidak ada stok selama 2 minggu. Dan
ketika tulisan ini saya tulis hampir genap 2 bulan produk susu itu
"menghilang". Tidak hanya di kota Malang tetapi juga di Surabaya.
Istrikupun tidak kekurangan akal, mertua di depok dan saudara yang di
Cibubur-pun dikerahkan untuk mencari susu formula tersebut di
Hypermarket ibukota Jakarta. Kemana larinya susu formula ini?
Tidak
seperti susu sapi lain, susu soya tidaklah banyak macam merk-nya. Susu
soya ini terpaksa kami gunakan karena anak kami ternyata alergi
terhadap lemak dari susu sapi yang mengakibatkan anak kami susah
bernafas dan mencret ketika mengkonsumsi susu sapi. Awalnya kami tidak
mengetahuinya jika anak kami alergi susu sapi, hingga kami berobat ke
dokter anak, tetap belum diketahui penyebab pilek, bunyi "grog", dan
susah bernafas anak saya. Tapi ketika kami ganti dokter anak, barulah
kami ketahui bahwa anak kami alergi susu sapi dan disarankan untuk
mengganti susu formula dari sapi dengan susu soya.
Dan ketika stok
Norsoy dirumah kami akhirnya habis, terpaksa kami memberikan susu soya
dari merk lain. Memang anak kami tidak menolak susu tersebut, tapi
setelah hampir 2 minggu berjalan, kami perhatikan pilek dan suara
"grog" ketika mengkonsumsi susu tersebut keluar kembali. Persis ketika
ia mengkonsumsi susu sapi dulu, hanya saja nafasnya tidak
kesulitan/berat. Istri dan saya sangat khawatir, apakah ia tidak cocok
dengan jenis susu soya yang lain? Akhirnya tadi sore saya sambangi
kembali beberapa hypermarket ternama di Surabaya. Hasilnya yang saya
temukan hanya rak Nursoy yang kosong dengan bertuliskan "Stok Kosong".
Dan saya tanyakan ke SPG penjaganya, sudah 2 bulan tidak ada stok susu
tersebut. Sedih rasanya saya tidak berhasil menemukan susu soya
tersebut walau hanya 1 kaleng saja.

Sahabat dan Saudara

August 28th, 2008 by agusirwanto

Saya sangat bersyukur sekali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan di Univ. Muhammadiyah Malang. Di kampus inilah saya mengenal
sebuah tempat yang kemudian membukakan mata saya dalam memaknai arti
persahabatan. Di sebuah organisasi yang bernama DIMPA. Sebuah
organisasi pecinta alam yang sistem keanggotaannya seumur hidup. Banyak
manusia unik dan beraneka ragam yang saya jumpai. Mulai Indonesia barat
hingga timur. Banyak pergulatan yang melibatkan banyak emosi dan cinta
dalam menghabiskan waktu kami bersama. Kadang kami menjadi "musuh",
kadang kami menjadi "sekutu". Terkadang kami sampai membanting meja
dalam sebuah rapat ketika tensi rapat naik, kadang kami saling
berpelukan sambil mengurai air mata. Kami benar-benar digulung dalam
permainan emosi yang membuat kami semakin paham arti persahabatan.
Kami
belajar bagaimana mendengar angkatan tua berbicara, disisi lain kami
juga harus menentang pendapat mereka. Ada sisi dimana kami harus
mendidik "adik-adik" kami dengan hati, ada kalanya dengan kemarahan
kami. Tapi pada akhirnya kami dapat belajar bagaimana kami memposisikan
diri terhadap mereka semua.
Saya menganggap angkatan saya (Angkatan
X /1993) dan angkatan di bawah saya (Angkatan XI/ 1994) merupakan dua
angkatan yang tak lekang persahabatannya. Kami boleh beda angkatan tapi
kami mayoritas dari angkatan kuliah yang sama. Dan karena itu pula kami
sering mengadakan kegiatan bersama, memimpin organisasi ini bersama
selama beberapa tahun. Kami sangat sering berdiskusi dan berkumpul
bersama. Kadang di warung Lestari belakang kampus, kalau malam dapat
pindah ke rumah saya di hamid rusdi, atau ke kontrakan Tapak Jalak, Kos
Sengkaling, rumah Kempong di Kauman kota Batu, atau sekedar merecokin
dan uji nyali di rumah Agus Ableh di Jl. Kasembon - kota Malang. Maklum
rumahnya banyak demitnya, dan si Ableh dengan cueknya nidurin tuh rumah
warisan sendirian. Saya sangsi kalau dia betul-betul "tatag" terhadap
tuh demit, tapi lebih dikarenakan kacamatanya yang setebal pantat
botol, sehingga cukup dengan membuka kacamatanya, buram sudah dunia.
Dan kami kumpul-kumpul tidak melulu serius, kadang kami main SEGA
hingga pagi (maklum PS belum ada).
Karena kami sudah seperti
saudara, selain kami begitu dihapal oleh keluarga kami, kitapun hapal
akan kebiasaan kami. Contohnya kala itu jika saya sudah emosi dan mau
marah, teman-teman selalu nyletuk "..he ndang dipinggirno tempat sampah
e, ancur mengko disepak-i tuwek..". Dan akhirnya saya-pun tersenyum
geli melihat tingkah mereka. Atau kebiasaan Misuh si Karyo yang asli
Sragen dengan "Bajirut.."-nya lengkap dengan style topi, kemeja dan
celana berwarna hitam. Nah inilah warna favorit buat kami saat itu,
hitam - hitam, entah karena biar awet dipakainya atau kalau kotor tidak
terlihat kumelnya. hehehe.
Pernah suatu ketika malam tahun baru,
saya lupa tahunnya, ketika itu seisi sekretariat laki-laki semua
(karena pukul 21.00 WIB sekretariat harus steril dari mahluk bernama
wanita). Dan ketika pukul mendekati 00.00 WIB, kami spontan berkumpul
dan berdiri dibawah wall climbing membentuk lingkaran. Entah siapa
awalnya yang memulai berbicara, tapi akhirnya pembicaraan di dalam
lingkaran malam itu menjadi ajang curhat dan permintaan maaf atas
keegoisan masing-masing individu. Hingga ketika tiba giliran Yoyon yang
berbicara terdengar suara sesenggukan, eh .. akhirnya semua sesenggukan
dan kami bersalaman dan berpelukan erat. Emosi kami malam itu begitu
haru biru, kami merasa lebih dari sekedar sahabat tetapi seperti
saudara. Saudara seperjuangan.
Saya rindu kalian semua sahabat dan
saudaraku, Kempong, Magma Jidat, Deni Gajah, Sofi Lempung, Ableh,
Karyo, Yoyon, Ambon, Nophe, Erfan, Macho, Ihsan Kucing, Parvi tengik,
Refizal, Pramu changcutter, Ochid betawi asli, Sarkeh dan "my lost
brother" Ketip. Kembali ke jalan yang benar ya Tip, kami menunggumu
disitu. I miss you all, brothers …

Terima Kasih Ya Alloh …

August 20th, 2008 by agusirwanto

Terima
kasih ya Alloh, terima kasih atas umur yang Kau beri kembali hingga
tahun ini aku dapat bersyukur atas semua hidayah yang Kau berikan
padaku. Terima kasih atas kesehatan, Rejeki, dan lindungan-Mu selalu.
Terima Kasih atas keluarga kecilku yang indah, Istriku yang cantik dan
anakku yang elok. Terima Kasih ya Alloh.
Terima kasih ya Rabb,
sehingga pada 21 Agustus tahun ini aku dapat menikmati umur 33 tahunku.
Sebuah umur yang selalu belajar menuju proses dalam kematangan berpikir
dan berbuat.

Saya dan Vespa

August 20th, 2008 by agusirwanto

2008_03_31_bikepics1236275320Hidup saya tidak jauh dari sebuah kendaraan bernama Vespa! Sejak kecil
saya sudah terbiasa diajak berkeliling oleh bapak saya dengan naik
Vespa. Jenis Vespa yang dimiliki bapak saya saat itu adalah Super 150
tahun 1978 berwarna Coklat krem. Dan ketika saya menduduki SMA kelas 3,
kendaraan "semok" itu menjadi teman setiaku yang mengantarkanku ke
sekolah mengganti sepeda gunungku yang sudah 2 tahun lebih dahulu
menjadi tumpanganku ke sekolah.
Ketika saya mulai kuliah di Univ.
Muhammadiyah Malang, Vespa ini juga yang menemaniku beraktifitas. Dan
catnya-pun saya rubah menjadi kuning dan berhias gambaran pemandangan
hasil karya tanganku sendiri di bagian pantat kanan kirinya.
Saking
identiknya saya dengan Vespa satu itu, saudara-saudara saya di Keluarga
Pecinta Alam "DIMPA" memberikan nama pada Vespa saya tersebut,
"Belalang Tempur". Karena sering juga saya bawa jika ada kegiatan di
hutan dan gunung, asalkan ada jalan setapak berarti dapat saya lewati
bersama si Belalang Tempur. Mulai kegiatan Diklatsar, Caving, hingga
rafting, dia setia menemaniku. Hingga aku bekerja, si Belalang Tempur
sering saya ajak mengangkut perahu kayak inflatable
milikku untuk menuju camp sebelum pengarungan di Sungai Brantas -
Kendal Payak - Malang. Lebih asyik sendirian, untuk menikmati sebuah
kesendirian saat itu.
Ada juga Vespa jenis PS 150 Strada tahun 1987
yang juga menemani saya ketika bekerja. Mulai saya di Surabaya hingga
ke tempat "pertapaan" saya di Bojonegoro. Vespa yang awalnya berwarna
biru abau-abu kemudian tahun 2001 saya cat menjadi biru dongker. Bahkan
tahun 2004 saya lengkapi dengan boks di bagian belakangnya. tambah lucu
dan gagah. Vespa ini sering saya ajak berkendara jarak jauh, yang
paling sering adalah ke rumah nenek saya di Trenggalek. Bahkan pernah
saya ajak nyekar ke saudara seperjuangan kami di DIMPA, dari Malang ke
Ponorogo via Trenggalek. Seru! apalagi kalau pakai ngadat di tengah
jalan.
Vespa memang tidak pernah jauh dari darah keluarga kami.
Istri saya juga sering bepergian di Jakarta dengan menggunakan Vespa
bersama kakeknya. Kadang waktu-waktu tertentu saya dan istri saya
berkeliling kota Malang dengan Vespa, sekedar cari angin dan melepaskan
rindu akan masa-masa kuliah kami dulu. hihihi.

Saya Benci Sakit

August 20th, 2008 by agusirwanto

Saya salah satu orang yang paling benci kondisi sakit. Biasanya kalau
ada tanda-tanda sakit saya selalu melawannya dengan minum obat atau
vitamin. Dalam keluarga saya, sayalah yang paling sering dirawat di
Rumah Sakit. Mulai Demam Berdarah, Typhus, sampai kecelakaan yang harus
membuat saya terbaring sebulan di rumah sakit. Tapi semua itu, saya
pikir adalah takdir dan keharusan yang mungkin harus saya lewati.
Dengan saya sakit, Alloh memberikan tandanya bahwa Dia sayang dan
perhatian kepada saya. Dengan saya sakit, Alloh juga mungkin memberikan
peringatan kepada saya dan orang-orang disekitar saya. Dengan saya
sakit, banyak kejadian yang mengharukan, pertemuan yang tidak disangka,
dan mukjizat itu bekerja dari Alloh. Dengan saya sakit, saya
dipertemukan dengan calon istri saya ketika itu, hehehe.
Saya sakit,
sering tidak ada tandanya, tiba-tiba saja ambruk, panas tinggi, dan tak
berdaya. Masih ingat ketika saya terserang demam berdarah. Waktu itu
saya hampir KKN (Kuliah Kerja Nyata), sore hari seperti biasa saya
bersama teman-teman seperjuangan berlatih dayung di kolam kampus,
malamnya karena malam minggu masih bisa keliling-keliling ke rumah
teman sambil ngopi, dan tidur di kontrakan teman saya Magma di Jalak.
Tapi paginya, badan saya demam tinggi, sayapun memutuskan pulang, dan
siang harinya saya diangkut ke Rumah Sakit Lavalette. Akhirnya, saya
terlambat seminggu untuk menjalankan KKN tadi, dan nilai KKN saya
menjadi paling rendah dalam satu kelompok. hehehe.
Tapi
bagaimanapun, kondisi sakit bukanlah hal yang menyenangkan, bagi saya
sangat menyiksa. Itu sebabnya, jika dalam masa pergantian cuaca, jika
saya ingat, saya selalu berhati-hati. Karena biasanya di masa itu
siklus saya sedang pada rendah-rendahnya. Jadi, ya sering sakit juga,
walau sekedar terserang flu berat.

In Memoriam Zwembad Malang

June 23rd, 2008 by agusirwanto

Zwembad01
Zwembad dalam bahasa Belanda-nya, tapi karena lidah jawa maka lebih
familier disebut dengan Slembat. Sebuah tempat di Kota Malang yang
berupa kolam renang yang terletak di samping Stadion Gajayana. Saya
tidak tahu persis kapan Zwembad ini didirikan, tapi yang pasti sebelum
Indonesia merdeka, tempat ini sudah lama berdiri. Dan selama ini
pengelolaannya berada ditangan Pemerintah Kota Malang.
Saya yakin
100 %, tidak ada warga Kota Malang yang tidak mengetahui Slembat.
Karena menurut saya ini merupakan salah satu ikon kota dingin ini.
Ketika saya kecilpun hingga bekerja, saya masih mengunjungi tempat ini
untuk berenang. Teman-teman sekampus saya juga sering memanfaatkannya
untuk berlatih berenang. Memang tujuan orang ke zwembad ini pastilah
berenang, karena tempat ini tidak dilengkapi permainan air lainnya
seperti luncur atau apalah, hanya 2 buah kolam renang untuk dewasa dan
anak-anak.
Tapi saya sedih karena di lokasi ini dibangun Malang
Olympic Garden, yang katanya untuk pusat olahraga di Malang tapi
ujung-ujungnya juga membangun mall. Dan suatu ketika saya pulang ke
kota Malang dan melewati Zwembad, betapa terhenyak saya ketika
mendapatkan bangunan ini telah menjadi lapangan parkir dibelakang MOG
mall itu. Satu lagi bangunan bersejarah itupun hilang, padahal bangunan
tersebut dalam tangan pemerintah yang harapannya dapat melestarikan
bangunan-bangunan lama yang bertebaran di kota Malang.
Selamat Jalan
Zwembad, semoga pemilihan Walikota esok bulan depan warga kota Malang
terbuka matanya, tidak memilih walikota yang suka jual aset negara dan
tempat bersejarahnya hanya demi membangun mall di kota Malang ini. amin.

NAMA ANAKKU

April 27th, 2008 by agusirwanto

Dian_key
Ketika istriku hamil, selain menyiapkan segala sesuatu untuk tumbuh kembangnya anakku di dalam kandungan istriku, kesehatan istriku, juga mempersiapkan nama untuk anakku. Sejak awal kami menikah di tahun 2006, kami sudah memiliki sebuah nama untuk anak kami, yakni Agsya. Yang berarti gabungan dari nama kami berdua, agus dan syam. Ya mungkin itung-itung mendirikan dinasti atau marga baru. Hehehe.
Nama lain yang kemudian menyusul adalah Kila yang diambil dari bahasa Toraja yang juga fam dari nenek moyangku dari ibuku yang asli dari Toraja. Kebetulan ketika terakhir kesana pada tahun 2004 (mungkin), aku diberi nama oleh buyut kami, Agus Kila’. Untuk menyambung tali silaturohim agar tidak kehilangan api istilahnya, aku cantumkan juga dinama belakang anakku, yang berarti Petir / kilat.
Aku dan istriku juga menginginkan nama anak kami juga diambil dari bahasa arab. Cukup panjang perjalanan untuk mendapatkan nama ini. Butuh waktu hingga usia kehamilan istriku memasuki bulan kedelapan (jika tidak salah). Mulai mencari referensi di buku-buku nama Islam hingga browsing di internet. Akhirnya kami peroleh 2 buah nama yang artinya baik, yakni Fahiem yang dalam bahasa Arab berarti smart / cerdas atau dalam bahasa Persia berarti wise / bijaksana. Kemudian Manna’, yang berarti strong atau kuat.
Lengkap sudah nama anak kami yang lelaki itu, itu karena ia baru ketahuan berkelamin lelaki ketika usia kehamilan istriku 8 bulan, karena dokter kesulitan menetukannya dari hasil USG hingga usia kehamilan 7 bulan. Akhirnya kami putuskan ia bernama Agsya Fahiem Manna Kila, kami biasa memanggilnya “Key” yang diambil dari huruf awal Kila, tapi ayah ibuku terbiasa ia memanggil Kila, lebih Toraja kali.
Alhamdulillah, semakin lengkap kebahagiaan kami berdua, dikaruniai oleh Alloh SWT seorang anak lelaki yang sehat dan kuat, semoga kelak ia akan menjadi insan yang sholeh, cerdas, bijaksana, yang berguna bagi agamanya, bangsanya, dan keluarganya. Amien.

Selamat Datang Buah Hatiku

November 18th, 2007 by agusirwanto

Allohu Akbar …
Alhamdulillah, Selamat datang buah hati kami, Agsya Fahiem Manna Kila. Tanggal 14 Nopember 2007 Pukul 08.14 WIB, di RSB Mutiara Bunda. Dengan Berat 3,45 kg dan panjang tubuh 50 cm.
Tiada kata yang dapat mewakili indahnya dirimu, ketika ku gendong pertama kali, usai dirimu lahir dari rahim ibumu, Syam Widiani, kudengungkan adzan di telingamu yang mungil. tak ada rasa bahagia yang dapat mengalahkan moment itu.
Selamat datang jagoan kecilku, jadilah manusia yang berguna bagi Agamumu Islam, Bangsamuu, dan orang tuamu. tumbuhlah menjadi insan yang cerdas dan bijaksana (Fahiem), dan kuat dirimu dan hatimu (Manna’).
Selamat datang cintaku … Key.

PENYU RIWAYATMU KINI …

September 27th, 2007 by agusirwanto

Penyu_sisik_1 Penyu merupakan satwa laut yang termasuk dalam kelompok reptilia yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas. Penyu mendiami laut tropis dan sub-tropis di seluruh dunia yang diperkirakan telah mendiami bumi lebih dari 100 juta tahun. Penyu laut berbeda dengan kura – kura, jika dilihat sepintas memang mereka terlihat sama. Ciri yang paling khas untuk membedakannya yaitu bahwa penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam.

            Di dunia terdapat tujuh spesies penyu, enam diantaranya ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator deprestus). Spesies yang banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan Indonesia adalah penyu hijau dan diikuti oleh penyu sisik.

            Penyu laut membutuhkan kurang lebih 15 – 50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu jantan menarik perhatian betinanya dengan cara menggosok – gosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Hanya penyu betina yang pergi ke pantai untuk bersarang dan bertelur. Mereka menggali lubang untuk meletakkan telur – telurnya, kemudian menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakannya untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya.

                Penyu umumnya lambat dan canggung jika mereka berada di darat, dan bertelur merupakan hal yang sangat melelahkan bagi penyu. Ketika bertelur penyu sering terlihat mengeluarkan air mata seperti menangis, padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam – garam yang berlebihan di dalam tubuhnya.Di alam, penyu – penyu yang baru menetas (tukik) menghadapi ancaman kematian dari hewan – hewan seperti burung, kepiting, biawak, dan lainnya. Tetapi ancaman yang paling besar justru adalah manusia. Penangkapan penyu untuk diambil telur, daging, kulit, dan cangkangnya telah membuat populasi penyu berkurang. Daging penyu banyak digemari oleh orang – orang dari kalangan tertentu, kulit dan batoknya dapat dibuat cinderamata, serta telurnya banyak dicari karena dipercayai berkhasiat bagi kesehatan dan menambah kekuatan tubuh.

            Di pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah, dengan mudah ditemui begitu banyak penyu – penyu yang dikeringkan untuk dijadikan cindera mata bagi pengunjung dan dijual dengan begitu bebasnya. Seekor penyu yang telah dikeringkan dijual dengan harga berkisar antara Rp. 75.000,- hingga Rp. 600.000,- tergantung ukuran penyu tersebut. Sedangkan jenis penyu yang ditangkap sebagian besar berjenis penyu sisik, penyu lekang, dan penyu hijau (Harian Suara Pembaharuan, 10/01/2002). Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi ditilik dari nama tempat wisata tersebut yang seharusnya dapat dijumpai penyu dalam keadaan hidup di habitatnya bukan digantung dalam keadaan mati!

            Bali merupakan konsumen terbesar penyu laut. Di pulau ini penyu digunakan dalam upacara – upacara adat, ribuan penyu telah terbunuh untuk memenuhi permintaan pasar. Polda Bali pernah menyita 129 ekor penyu dari jenis penyu hijau yang siap disembelih untuk dijadikan sate, lawar, dan sup (Media Indonesia, 5/07/2001).         Selain di Bali, di kota Tuban – Jawa Timur, penyu digunakan sebagai sarana peribadatan pada Klenteng Kwan Sing Bio. Hanya saja penyu tidak disembelih untuk dimakan, tetapi hanya ditulisi bagian tempurungnya dengan nama orang yang melakukan khaul dengan huruf cina. Kemudian penyu tersebut dilepaskan ke laut yang berada tepat di depan klenteng tersebut, gunanya untuk membuang sial. Harga penyu yang dijualpun bervariasi menurut waktu atau momen acara yang sedang digelar pada klenteng tersebut. Jika hari – hari biasa harganya berkisar Rp. 200.000,- tetapi jika pada hari tertentu dimana masyarakat yang hadir untuk sembahyang berlimpah maka harganya dapat mencapai Rp. 2 juta perekornya!

            Penyu saat ini telah terdaftar dalam Appendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna Spesies Terancam ( Convention on International Trade Endangered Species – CITES ), dimana melarang seluruh perdagangan internasional atas semua produk/hasil yang berasal dari penyu laut, baik itu telur, daging, maupun cangkangnya. Untuk itu diperlukan usaha – usaha guna pelestarian spesies penyu laut ini, paling tidak bagi kita dapat ikut peduli dengan melakukan hal – hal yang “mudah” berikut ini :

§         Tidak membuang sampah (terutama plastik) ke dalam laut, penyu sering salah mengartikan plastik sebagai makanan mereka yaitu ubur – ubur, sehingga menyebabkan mereka tercekik lalu mengakibatkan sakit bahkan kematian bagi penyu yang memakannya.

§         Tidak membeli dan menggunakan barang – barang yang terbuat dan berasl dari penyu.

§         Tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari penyu.

§         Tidak mengganggu penyu yang sedang bertelur.

§         Tidak mengambil telur – telur penyu.

§         Turut mendukung program konservasi penyu laut.

KERJA DAN BERPETUALANG DI PULAU BAWEAN

September 27th, 2007 by agusirwanto

Noko03_ir
Jika saya akan pergi ke Pulau
Bawean untuk suatu tugas, selalu saya dahului dengan mengadakan semacam ritual
terlebih dahulu, sebelum saya berangkat.
Ritual tersebut antara lain dengan
mengumpulkan peralatan fotografi yang saya miliki. Maklum, rugi rasanya jika
saya ke Bawean tidak membawa kamera. Karena tidak dapat mengabadikan berbagai
momen yang sering terjadi secara tidak terduga selama kegiatan yang akan saya
lakukan.

 Seorang teman saya semasa kuliah
dulu pernah bertanya kepada saya tentang Pulau Bawean ini. Menurut yang ia tahu
dan dengar bahwa pulau ini sangat baik untuk hunting ( arti awamnya, jalan – jalan sambil ambil foto ). Masih
menurutnya, pulau Bawean memiliki pemandangan yang indah mulai dari pantai – pantainya,
perahu, hingga gunung – gunungnya. Dan dia sangat penasaran sekali untuk
melakukan hunting di Bawean. Jika
teman saya saja begitu penasaran untuk melakukan hunting di Bawean, mengapa harus saya sia –siakan jika ke Bawean
tanpa saya lengkapi kegiatan saya dengan hunting?
Rugikan.

 Durungbwn_ir
Meskipun hingga saat ini saya belum
menjelajah ke seluruh tempat di Pulau Bawean baik yang di dalam kawasan maupun
diluar kawasan konservasi, tetapi dari yang saya lihat selama disana memang
banyak sekali lokasi – lokasi yang baik untuk mengambil gambar – gambar
pemandangan maupun kegiatan masyarakat setempat. Coba kita perhatikan pesisir
pantai di sisi timur maupun barat yang memiliki pemandangan pantai yang cantik.
Sekali – kali luangkan waktu kita ketika subuh dan sore untuk menanti sunset dan sunrise di pelabuhan lama yang letaknya dekat dengan kantor Sub
Seksi Konservasi Wilayah P. Bawean. Sunset
akan cantik sekali dengan melihat matahari tenggelam di balik Tanjung Alang –
alang. Gugusan karang di Pulau Menuri sisi timur juga baik untuk diabadikan,
kita dapat kesana ketika air laut surut, sehingga dengan mudahnya kita berjalan
menyeberang. Dari pulau ini kita juga dapat melihat Pulau Noko dengan jelas,
tetapi sebaiknya gunakan binokuler atau lensa zoom. Karena ketika sore hari banyak burung yang beristirahat di
pulau tersebut. Tetapi jangan terlena, karena biasanya sekitar jam 2 siang air
akan mulai pasang kembali. Karena keasyikan juga akhirnya saya terpaksa
berbasah – basah ria untuk menyeberang kembali dari Menuri.

 Jika kita mau bersusah payah
sedikit, kita juga dapat mengabadikan pulau Gili tanpa menyeberang. Sebelum
kita sampai di Suaka Margasatwa P. Bawean blok Alas Timur kita dapat menuju
pantai, walau jalan agak curam, tetapi dengan sepeda motor patroli hal itu tentu
akan dapat diatasi. Kita juga dapat mengabadikan hutan nipah yang cantik di
pantai sisi timur hingga kita dapat tembus ke blok gunung Payung – payung. Di
desa tempat kita menitipkan sepeda motor akan kita dapati sederetan durung (semacam lumbung) dalam jumlah
cukup banyak dan tertata bagus yang mengingatkan saya pada lumbung suku Baduy
di Banten. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kita akan sampai pada sebuah
tebing bernama Tampo yang indah, cocok sekali untuk panjat tebing. Pernah suatu
pagi saya ke lokasi ini untuk mengambil foto bersama Pak Sigit, terlihat puncak
tebing ini ada gua dan keluarlah seekor burung elang dan berputar – putar
diatas tebing beberapa saat. Sayang sekali lensa zoom saya tidak menjangkaunya karena letaknya yang sangat tinggi.

 Kastoba_04_ir
Belum lagi pemandangan yang pantai
yang eksotik jika dilihat dari blok Sungai Terus dan tempat penangkaran Rusa
Bawean milik pak Sudirman. Juga telaga Kastoba, air terjun Kuduk – kuduk,
daerah Kolpo – kolpo yang unik. Dan saya yakin masih banyak lokasi indah yang
belum sempat saya “jamah” di Bawean.

 Kejadian tidak terduga juga sering
kita jumpai pada saat berpatroli. Seperti berjumpa dengan satwa liar yang
biasanya jika kita mencarinya malah tidak berjumpa, tetapi jika tidak berniat
mencarinya malah nongol di depan kita. Pernah saat patroli di blok Sungai
Terus, perjalanan kita di hadang oleh ular yang melintang di tengah jalan. Atau
berjumpa dengan segerombolan kera abu – abu di blok Kumalasa. Dan juga ketika
hampir kemalaman melintas di sekitar Kuduk – kuduk kita berjumpa dengan burung
elang dan kalong yang silih berganti terbang di atas kita. Atau menemukan
jebakan – jebakan untuk menangkap satwa yang dipasang penduduk di sekitar
aliran air atau sungai kecil. Juga ketika berpatroli pada bulan Januari,
rasanya hutan penuh dengan warna – warni bunga yang sedang bersemi. Belum lagi
trubus – trubus dari pelbagai jenis tumbuhan turut memperindah warna hutan pada
bulan itu. Hal – hal indah seperti ini sejak awal tidak pernah kita rencanakan.