Penyu merupakan satwa laut yang termasuk dalam kelompok reptilia yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas. Penyu mendiami laut tropis dan sub-tropis di seluruh dunia yang diperkirakan telah mendiami bumi lebih dari 100 juta tahun. Penyu laut berbeda dengan kura – kura, jika dilihat sepintas memang mereka terlihat sama. Ciri yang paling khas untuk membedakannya yaitu bahwa penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam.
Di dunia terdapat tujuh spesies penyu, enam diantaranya ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator deprestus). Spesies yang banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan Indonesia adalah penyu hijau dan diikuti oleh penyu sisik.
Penyu laut membutuhkan kurang lebih 15 – 50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu jantan menarik perhatian betinanya dengan cara menggosok – gosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Hanya penyu betina yang pergi ke pantai untuk bersarang dan bertelur. Mereka menggali lubang untuk meletakkan telur – telurnya, kemudian menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakannya untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya.
Penyu umumnya lambat dan canggung jika mereka berada di darat, dan bertelur merupakan hal yang sangat melelahkan bagi penyu. Ketika bertelur penyu sering terlihat mengeluarkan air mata seperti menangis, padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam – garam yang berlebihan di dalam tubuhnya.Di alam, penyu – penyu yang baru menetas (tukik) menghadapi ancaman kematian dari hewan – hewan seperti burung, kepiting, biawak, dan lainnya. Tetapi ancaman yang paling besar justru adalah manusia. Penangkapan penyu untuk diambil telur, daging, kulit, dan cangkangnya telah membuat populasi penyu berkurang. Daging penyu banyak digemari oleh orang – orang dari kalangan tertentu, kulit dan batoknya dapat dibuat cinderamata, serta telurnya banyak dicari karena dipercayai berkhasiat bagi kesehatan dan menambah kekuatan tubuh.
Di pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah, dengan mudah ditemui begitu banyak penyu – penyu yang dikeringkan untuk dijadikan cindera mata bagi pengunjung dan dijual dengan begitu bebasnya. Seekor penyu yang telah dikeringkan dijual dengan harga berkisar antara Rp. 75.000,- hingga Rp. 600.000,- tergantung ukuran penyu tersebut. Sedangkan jenis penyu yang ditangkap sebagian besar berjenis penyu sisik, penyu lekang, dan penyu hijau (Harian Suara Pembaharuan, 10/01/2002). Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi ditilik dari nama tempat wisata tersebut yang seharusnya dapat dijumpai penyu dalam keadaan hidup di habitatnya bukan digantung dalam keadaan mati!
Bali merupakan konsumen terbesar penyu laut. Di pulau ini penyu digunakan dalam upacara – upacara adat, ribuan penyu telah terbunuh untuk memenuhi permintaan pasar. Polda Bali pernah menyita 129 ekor penyu dari jenis penyu hijau yang siap disembelih untuk dijadikan sate, lawar, dan sup (Media Indonesia, 5/07/2001). Selain di Bali, di kota Tuban – Jawa Timur, penyu digunakan sebagai sarana peribadatan pada Klenteng Kwan Sing Bio. Hanya saja penyu tidak disembelih untuk dimakan, tetapi hanya ditulisi bagian tempurungnya dengan nama orang yang melakukan khaul dengan huruf cina. Kemudian penyu tersebut dilepaskan ke laut yang berada tepat di depan klenteng tersebut, gunanya untuk membuang sial. Harga penyu yang dijualpun bervariasi menurut waktu atau momen acara yang sedang digelar pada klenteng tersebut. Jika hari – hari biasa harganya berkisar Rp. 200.000,- tetapi jika pada hari tertentu dimana masyarakat yang hadir untuk sembahyang berlimpah maka harganya dapat mencapai Rp. 2 juta perekornya!
Penyu saat ini telah terdaftar dalam Appendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna Spesies Terancam ( Convention on International Trade Endangered Species – CITES ), dimana melarang seluruh perdagangan internasional atas semua produk/hasil yang berasal dari penyu laut, baik itu telur, daging, maupun cangkangnya. Untuk itu diperlukan usaha – usaha guna pelestarian spesies penyu laut ini, paling tidak bagi kita dapat ikut peduli dengan melakukan hal – hal yang “mudah” berikut ini :
§ Tidak membuang sampah (terutama plastik) ke dalam laut, penyu sering salah mengartikan plastik sebagai makanan mereka yaitu ubur – ubur, sehingga menyebabkan mereka tercekik lalu mengakibatkan sakit bahkan kematian bagi penyu yang memakannya.
§ Tidak membeli dan menggunakan barang – barang yang terbuat dan berasl dari penyu.
§ Tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari penyu.
§ Tidak mengganggu penyu yang sedang bertelur.
§ Tidak mengambil telur – telur penyu.
§ Turut mendukung program konservasi penyu laut.