TANA TORAJA

Kilas_tongkonan_3 Pas melihat kembali beberapa cukilan foto ketika terkhir saya berkunjung ke tana leluhur saya, Toraja, saya jadi ingin nulis neh. Ketika itu saya ke Toraja sekeluarga, karena ada upacara penting, yakni upacara pemakaman Nenek Buyut saya yang sudah meninggal setahun sebelumnya. Nenek Kombong. Waktu itu sekitar bulan Juli 2004. Dengan perjalanan laut yang lamanya 1 hari 1 malam dari Pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Soekarno – Hatta, Makassar. Kami masih harus naik bis selama 8 jam ke Rantepao di kabupaten Tana Toraja.

            Exciting, gitu aja. Udara yang dingin, jauh lebih dingin dari kota Malang. Kemudian kota yang kecil, serta kendaraan yang sedikit. Saya menuju ke Gang Indosella, ke tempat famili kami yang kebetulan bertetanggaan dengan markas Indosella, operator wisata arung jeram di Rantepao ini.

            Dari sini, kami masih harus naik taksi (yah sebenarnya mikrolet) ke desa tempat buyut kami. Nama desanya Sumpia.walau matahari ada di ubun – ubun tapi sengatannya kurang terasa, karena udara di sini benar – benar dingin. Kami di sambut ibu saya (yang sudah berangkat terlebih dahulu beberapa minggu), saudara – saudara kami, yang ini pertama kalinya saya bertemu. Tapi terus terang rupanya nama saya sudah sampe duluan beberapa tahun dari orangnya, hehehe. Karena disini jika memanggil ibu atau nenek memakai nama dari anak / cucu pertama. Sedangkan saya adalah anak dan cucu pertama. Nama sudah lebih ngetop dulu. “ oh ini yang namanya agus…”,sering saya dengar dari saudara – saudara saya.

            Wah – wah gak muat deh nih blogs kalo saya harus cerita semua. Yang jelas, taraf hidup kita langsung turun. Gak pengen ngapa-ngapain. Bangun tidur, sholat (dari seluruh saudara yang datang, hanya kami yang keluarga muslim, Allahu Akbar!), nyamil, minum kopi arabika khas toraja, siangan dikit datang balo’, minuman (agak keras) khas toraja. Pokoknya sudah ada nasi di perut, gak bakal mabok deh, malah enak karena badan hangat. Hingga pukul 8, kabut masih menyelimuti desa ini.

            Upacara pemakaman ini berlangsung selama 4 hari dengan berbagai upacara, menaikkan jenazah ke panggung, terima tamu yang super duper ramai (karena turis juga banyak yang datang), tarian mabadong (tarian kematian, menurut saya), adu kerbau, pemotong kerbau yang seru banget, dan tentu upacara pemakaman itu sendiri dengan mengarak peti janazah ke Batupua, lokasi pemakaman yang besar yang terbuat dari gunung batu yang dilubangi. Desa ini juga rupanya tujuan para wisatwan asing karena ada Batupua dan Pana (kuburan tertua). Ketika saya datang, suasana di Pana sungguh ganjil, wah kayaknya aura saya gak cocok deh.

            Berhubung masa liburan yang sedikit, saya, bapak saya, dan rini adik saya, kami bertiga pulang terlebih dahulu ke Malang dengan naik Mandala (yang sekarang sudah almarhum). Sedang rina, ibu dan Dodon (pacar rina) masih bisa keliling dulu bersama saudara – saudara saya yang dari Kalimantan. Enak banget, jalan – jalan ke Makale, ke’te, dan lain – lain. Tapi paling tidak sebelum kami pulang sempat di jamu oleh om Panu’, pesta kapurung. Makanan khas toraja yang terbuat dari sagu. Hik … sedep deh.

            Oh iya, anda bisa lihat beberapa fotonya di bagian ALBUM FOTO sub bagian Toraja. Foto – foto tersebut dari jepretan kamera HP saya. Yang dari kamera SLR saya belum sempat saya scan. Jadi ya rada – rada burek, maklum dibawah 1 megapixel. Tak ada kata lain selain, ingin lagi kuinjakkan kakiku ke Toraja kembali.

Leave a Reply