Dari Diklat Pengolahan Hutan Mangrove V

Tanggal
23 Mei hingga 6 Juni 2007 yang lalu saya mengikuti Diklat Pengelolaan
Hutan Mangrove Angkatan V di Kadipaten – Majalengka. Sudah setahun
saya mengincar diklat ini, dan saya juga sudah mengusulkan nama saya
untuk ikut diklat tersebut. Walaupun dengan perasaan tidak menentu,
karena istri saya sedang hamil 4 bulan ketika itu, dengan seijinnya
saya berangkat ikut diklat mangrove selama 15 hari.
Luar
biasa, itu yang saya rasakan. Selain banyak pengetahuan baru, yang
selama ini sangat terbatas pengetahuan saya tentang mangrove ini.
Banyak hal yang berkesan, utamanya ketika praktek di pesisir pantai
Desa Bangsri Kec. Bulakamba Kab. Brebes. Walaupun tidak jadi praktek
di Bali, yang menjadi rumor ketika diklat itu akan diadakan, tapi
saya rasa justru praktek kami kali ini lebih membuat saya jauh lebih
mengerti mengenai pengelolaan hutan mangrove daripada sekedar melihat
– lihat Balai Pengelolaan Hutan Mangrove dimana lokasi mangrove-nya
memang sudah jadi.
Banyak
hal yang sangat komplek yang ditemui guna membudayakan masyarakat
pesisir mengenal dan mengetahui fungsi mangrove, sehingga dalam
praktek kami tidak sedikit juga halangan yang menghadang. Tapi justru
keadaan yang begitulah membuat kami lebih mengerti dalam pengelolaan
mangrove, daripada sekedar praktek yang bersifat “jalan – jalan”.
Kami juga membuatkan tempat contoh persemaian benih mangrove pada
kelompok tani yang ada, dan yang paling menarik adalah ketika menanam
bibit mangrove di pantai desa tersebut. Sekedar catatan, pantainya
bukan pantai berpasir seperti umumnya, tetapi pantai berlumpur yang
dalamnya sepinggang orang dewasa. Tapi tantangan seperti itu yang
membuat kami dan “sebagian” peserta diklat semakin semangat untuk
menanamnya. Karena sejarah pantai tersebut sebelumnya, maka jenis
yang kami tanam adalah Avicennia marina dan Rhizophora
mucronata. Penanaman kedua jenis mangrove ini bertujuan untuk
membuat green belt di pantai desa tersebut.
Banyak
potensi dan masalah yang di desa Bangsri tempat kami praktek, tapi
sebagai catatan utama saya, sebuah potensi yang besar adalah seorang
tokoh muda yang merupakan “kunci” utama berhasil tidaknya
mangrovisasi di desa tersebut. Seorang pemuda bernama Ahmad Jamil.
Dengan keinginan yang cukup kuat dan pengetahuan yang cukup luas
juga, saya yakin Jamil dapat membawa desa Bangsri menjadi lebih baik
keadaan mangrove – nya. Hanya saja halangan yang menghadang memang
cukup kompleks, utamanya dari aparat desanya yang kurang mendukung
dengan kebijakannya yang tidak bijak, juga intansi daerah yang
terkait yang terkesan “asal jalan”.
Dari
beberapa diklat atau pelatihan singkat, diklat inilah yang paling
menarik bagi saya. Bukan saja dari segi prakteknya, tapi juga orang –
orang di dalamnya yang menjadi peserta diklat yang 30 orang itu. Ada
beberapa orang yang menjadi icon dalam kegiatan diklat ini, maksudnya
jika orang – orang tersebut gak ada, pastilah sepi. Sebut
saja Mala dari Dinhut Lamongan, Musiri dari TN. Alas
Purwo, Nanang dari TN. Baluran dengan Simbada-nya yang
bikin asrama hingar bingar, dan Nyoto dari TN.
Merubetiri yang ngeyelan. Thank guys, dan jangan lupa
yel – yel yang ketiga jangan di ganti “… tebang tebang
tebang..”. hehehe. (Bojonegoro 12 Juli 2007)