Archive for September, 2007

PENYU RIWAYATMU KINI …

Thursday, September 27th, 2007

Penyu_sisik_1 Penyu merupakan satwa laut yang termasuk dalam kelompok reptilia yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas. Penyu mendiami laut tropis dan sub-tropis di seluruh dunia yang diperkirakan telah mendiami bumi lebih dari 100 juta tahun. Penyu laut berbeda dengan kura – kura, jika dilihat sepintas memang mereka terlihat sama. Ciri yang paling khas untuk membedakannya yaitu bahwa penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam.

            Di dunia terdapat tujuh spesies penyu, enam diantaranya ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator deprestus). Spesies yang banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan Indonesia adalah penyu hijau dan diikuti oleh penyu sisik.

            Penyu laut membutuhkan kurang lebih 15 – 50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu jantan menarik perhatian betinanya dengan cara menggosok – gosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Hanya penyu betina yang pergi ke pantai untuk bersarang dan bertelur. Mereka menggali lubang untuk meletakkan telur – telurnya, kemudian menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakannya untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya.

                Penyu umumnya lambat dan canggung jika mereka berada di darat, dan bertelur merupakan hal yang sangat melelahkan bagi penyu. Ketika bertelur penyu sering terlihat mengeluarkan air mata seperti menangis, padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam – garam yang berlebihan di dalam tubuhnya.Di alam, penyu – penyu yang baru menetas (tukik) menghadapi ancaman kematian dari hewan – hewan seperti burung, kepiting, biawak, dan lainnya. Tetapi ancaman yang paling besar justru adalah manusia. Penangkapan penyu untuk diambil telur, daging, kulit, dan cangkangnya telah membuat populasi penyu berkurang. Daging penyu banyak digemari oleh orang – orang dari kalangan tertentu, kulit dan batoknya dapat dibuat cinderamata, serta telurnya banyak dicari karena dipercayai berkhasiat bagi kesehatan dan menambah kekuatan tubuh.

            Di pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah, dengan mudah ditemui begitu banyak penyu – penyu yang dikeringkan untuk dijadikan cindera mata bagi pengunjung dan dijual dengan begitu bebasnya. Seekor penyu yang telah dikeringkan dijual dengan harga berkisar antara Rp. 75.000,- hingga Rp. 600.000,- tergantung ukuran penyu tersebut. Sedangkan jenis penyu yang ditangkap sebagian besar berjenis penyu sisik, penyu lekang, dan penyu hijau (Harian Suara Pembaharuan, 10/01/2002). Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi ditilik dari nama tempat wisata tersebut yang seharusnya dapat dijumpai penyu dalam keadaan hidup di habitatnya bukan digantung dalam keadaan mati!

            Bali merupakan konsumen terbesar penyu laut. Di pulau ini penyu digunakan dalam upacara – upacara adat, ribuan penyu telah terbunuh untuk memenuhi permintaan pasar. Polda Bali pernah menyita 129 ekor penyu dari jenis penyu hijau yang siap disembelih untuk dijadikan sate, lawar, dan sup (Media Indonesia, 5/07/2001).         Selain di Bali, di kota Tuban – Jawa Timur, penyu digunakan sebagai sarana peribadatan pada Klenteng Kwan Sing Bio. Hanya saja penyu tidak disembelih untuk dimakan, tetapi hanya ditulisi bagian tempurungnya dengan nama orang yang melakukan khaul dengan huruf cina. Kemudian penyu tersebut dilepaskan ke laut yang berada tepat di depan klenteng tersebut, gunanya untuk membuang sial. Harga penyu yang dijualpun bervariasi menurut waktu atau momen acara yang sedang digelar pada klenteng tersebut. Jika hari – hari biasa harganya berkisar Rp. 200.000,- tetapi jika pada hari tertentu dimana masyarakat yang hadir untuk sembahyang berlimpah maka harganya dapat mencapai Rp. 2 juta perekornya!

            Penyu saat ini telah terdaftar dalam Appendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna Spesies Terancam ( Convention on International Trade Endangered Species – CITES ), dimana melarang seluruh perdagangan internasional atas semua produk/hasil yang berasal dari penyu laut, baik itu telur, daging, maupun cangkangnya. Untuk itu diperlukan usaha – usaha guna pelestarian spesies penyu laut ini, paling tidak bagi kita dapat ikut peduli dengan melakukan hal – hal yang “mudah” berikut ini :

§         Tidak membuang sampah (terutama plastik) ke dalam laut, penyu sering salah mengartikan plastik sebagai makanan mereka yaitu ubur – ubur, sehingga menyebabkan mereka tercekik lalu mengakibatkan sakit bahkan kematian bagi penyu yang memakannya.

§         Tidak membeli dan menggunakan barang – barang yang terbuat dan berasl dari penyu.

§         Tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari penyu.

§         Tidak mengganggu penyu yang sedang bertelur.

§         Tidak mengambil telur – telur penyu.

§         Turut mendukung program konservasi penyu laut.

KERJA DAN BERPETUALANG DI PULAU BAWEAN

Thursday, September 27th, 2007

Noko03_ir
Jika saya akan pergi ke Pulau
Bawean untuk suatu tugas, selalu saya dahului dengan mengadakan semacam ritual
terlebih dahulu, sebelum saya berangkat.
Ritual tersebut antara lain dengan
mengumpulkan peralatan fotografi yang saya miliki. Maklum, rugi rasanya jika
saya ke Bawean tidak membawa kamera. Karena tidak dapat mengabadikan berbagai
momen yang sering terjadi secara tidak terduga selama kegiatan yang akan saya
lakukan.

 Seorang teman saya semasa kuliah
dulu pernah bertanya kepada saya tentang Pulau Bawean ini. Menurut yang ia tahu
dan dengar bahwa pulau ini sangat baik untuk hunting ( arti awamnya, jalan – jalan sambil ambil foto ). Masih
menurutnya, pulau Bawean memiliki pemandangan yang indah mulai dari pantai – pantainya,
perahu, hingga gunung – gunungnya. Dan dia sangat penasaran sekali untuk
melakukan hunting di Bawean. Jika
teman saya saja begitu penasaran untuk melakukan hunting di Bawean, mengapa harus saya sia –siakan jika ke Bawean
tanpa saya lengkapi kegiatan saya dengan hunting?
Rugikan.

 Durungbwn_ir
Meskipun hingga saat ini saya belum
menjelajah ke seluruh tempat di Pulau Bawean baik yang di dalam kawasan maupun
diluar kawasan konservasi, tetapi dari yang saya lihat selama disana memang
banyak sekali lokasi – lokasi yang baik untuk mengambil gambar – gambar
pemandangan maupun kegiatan masyarakat setempat. Coba kita perhatikan pesisir
pantai di sisi timur maupun barat yang memiliki pemandangan pantai yang cantik.
Sekali – kali luangkan waktu kita ketika subuh dan sore untuk menanti sunset dan sunrise di pelabuhan lama yang letaknya dekat dengan kantor Sub
Seksi Konservasi Wilayah P. Bawean. Sunset
akan cantik sekali dengan melihat matahari tenggelam di balik Tanjung Alang –
alang. Gugusan karang di Pulau Menuri sisi timur juga baik untuk diabadikan,
kita dapat kesana ketika air laut surut, sehingga dengan mudahnya kita berjalan
menyeberang. Dari pulau ini kita juga dapat melihat Pulau Noko dengan jelas,
tetapi sebaiknya gunakan binokuler atau lensa zoom. Karena ketika sore hari banyak burung yang beristirahat di
pulau tersebut. Tetapi jangan terlena, karena biasanya sekitar jam 2 siang air
akan mulai pasang kembali. Karena keasyikan juga akhirnya saya terpaksa
berbasah – basah ria untuk menyeberang kembali dari Menuri.

 Jika kita mau bersusah payah
sedikit, kita juga dapat mengabadikan pulau Gili tanpa menyeberang. Sebelum
kita sampai di Suaka Margasatwa P. Bawean blok Alas Timur kita dapat menuju
pantai, walau jalan agak curam, tetapi dengan sepeda motor patroli hal itu tentu
akan dapat diatasi. Kita juga dapat mengabadikan hutan nipah yang cantik di
pantai sisi timur hingga kita dapat tembus ke blok gunung Payung – payung. Di
desa tempat kita menitipkan sepeda motor akan kita dapati sederetan durung (semacam lumbung) dalam jumlah
cukup banyak dan tertata bagus yang mengingatkan saya pada lumbung suku Baduy
di Banten. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kita akan sampai pada sebuah
tebing bernama Tampo yang indah, cocok sekali untuk panjat tebing. Pernah suatu
pagi saya ke lokasi ini untuk mengambil foto bersama Pak Sigit, terlihat puncak
tebing ini ada gua dan keluarlah seekor burung elang dan berputar – putar
diatas tebing beberapa saat. Sayang sekali lensa zoom saya tidak menjangkaunya karena letaknya yang sangat tinggi.

 Kastoba_04_ir
Belum lagi pemandangan yang pantai
yang eksotik jika dilihat dari blok Sungai Terus dan tempat penangkaran Rusa
Bawean milik pak Sudirman. Juga telaga Kastoba, air terjun Kuduk – kuduk,
daerah Kolpo – kolpo yang unik. Dan saya yakin masih banyak lokasi indah yang
belum sempat saya “jamah” di Bawean.

 Kejadian tidak terduga juga sering
kita jumpai pada saat berpatroli. Seperti berjumpa dengan satwa liar yang
biasanya jika kita mencarinya malah tidak berjumpa, tetapi jika tidak berniat
mencarinya malah nongol di depan kita. Pernah saat patroli di blok Sungai
Terus, perjalanan kita di hadang oleh ular yang melintang di tengah jalan. Atau
berjumpa dengan segerombolan kera abu – abu di blok Kumalasa. Dan juga ketika
hampir kemalaman melintas di sekitar Kuduk – kuduk kita berjumpa dengan burung
elang dan kalong yang silih berganti terbang di atas kita. Atau menemukan
jebakan – jebakan untuk menangkap satwa yang dipasang penduduk di sekitar
aliran air atau sungai kecil. Juga ketika berpatroli pada bulan Januari,
rasanya hutan penuh dengan warna – warni bunga yang sedang bersemi. Belum lagi
trubus – trubus dari pelbagai jenis tumbuhan turut memperindah warna hutan pada
bulan itu. Hal – hal indah seperti ini sejak awal tidak pernah kita rencanakan.