Archive for August, 2008

Sahabat dan Saudara

Thursday, August 28th, 2008

Saya sangat bersyukur sekali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan di Univ. Muhammadiyah Malang. Di kampus inilah saya mengenal
sebuah tempat yang kemudian membukakan mata saya dalam memaknai arti
persahabatan. Di sebuah organisasi yang bernama DIMPA. Sebuah
organisasi pecinta alam yang sistem keanggotaannya seumur hidup. Banyak
manusia unik dan beraneka ragam yang saya jumpai. Mulai Indonesia barat
hingga timur. Banyak pergulatan yang melibatkan banyak emosi dan cinta
dalam menghabiskan waktu kami bersama. Kadang kami menjadi "musuh",
kadang kami menjadi "sekutu". Terkadang kami sampai membanting meja
dalam sebuah rapat ketika tensi rapat naik, kadang kami saling
berpelukan sambil mengurai air mata. Kami benar-benar digulung dalam
permainan emosi yang membuat kami semakin paham arti persahabatan.
Kami
belajar bagaimana mendengar angkatan tua berbicara, disisi lain kami
juga harus menentang pendapat mereka. Ada sisi dimana kami harus
mendidik "adik-adik" kami dengan hati, ada kalanya dengan kemarahan
kami. Tapi pada akhirnya kami dapat belajar bagaimana kami memposisikan
diri terhadap mereka semua.
Saya menganggap angkatan saya (Angkatan
X /1993) dan angkatan di bawah saya (Angkatan XI/ 1994) merupakan dua
angkatan yang tak lekang persahabatannya. Kami boleh beda angkatan tapi
kami mayoritas dari angkatan kuliah yang sama. Dan karena itu pula kami
sering mengadakan kegiatan bersama, memimpin organisasi ini bersama
selama beberapa tahun. Kami sangat sering berdiskusi dan berkumpul
bersama. Kadang di warung Lestari belakang kampus, kalau malam dapat
pindah ke rumah saya di hamid rusdi, atau ke kontrakan Tapak Jalak, Kos
Sengkaling, rumah Kempong di Kauman kota Batu, atau sekedar merecokin
dan uji nyali di rumah Agus Ableh di Jl. Kasembon - kota Malang. Maklum
rumahnya banyak demitnya, dan si Ableh dengan cueknya nidurin tuh rumah
warisan sendirian. Saya sangsi kalau dia betul-betul "tatag" terhadap
tuh demit, tapi lebih dikarenakan kacamatanya yang setebal pantat
botol, sehingga cukup dengan membuka kacamatanya, buram sudah dunia.
Dan kami kumpul-kumpul tidak melulu serius, kadang kami main SEGA
hingga pagi (maklum PS belum ada).
Karena kami sudah seperti
saudara, selain kami begitu dihapal oleh keluarga kami, kitapun hapal
akan kebiasaan kami. Contohnya kala itu jika saya sudah emosi dan mau
marah, teman-teman selalu nyletuk "..he ndang dipinggirno tempat sampah
e, ancur mengko disepak-i tuwek..". Dan akhirnya saya-pun tersenyum
geli melihat tingkah mereka. Atau kebiasaan Misuh si Karyo yang asli
Sragen dengan "Bajirut.."-nya lengkap dengan style topi, kemeja dan
celana berwarna hitam. Nah inilah warna favorit buat kami saat itu,
hitam - hitam, entah karena biar awet dipakainya atau kalau kotor tidak
terlihat kumelnya. hehehe.
Pernah suatu ketika malam tahun baru,
saya lupa tahunnya, ketika itu seisi sekretariat laki-laki semua
(karena pukul 21.00 WIB sekretariat harus steril dari mahluk bernama
wanita). Dan ketika pukul mendekati 00.00 WIB, kami spontan berkumpul
dan berdiri dibawah wall climbing membentuk lingkaran. Entah siapa
awalnya yang memulai berbicara, tapi akhirnya pembicaraan di dalam
lingkaran malam itu menjadi ajang curhat dan permintaan maaf atas
keegoisan masing-masing individu. Hingga ketika tiba giliran Yoyon yang
berbicara terdengar suara sesenggukan, eh .. akhirnya semua sesenggukan
dan kami bersalaman dan berpelukan erat. Emosi kami malam itu begitu
haru biru, kami merasa lebih dari sekedar sahabat tetapi seperti
saudara. Saudara seperjuangan.
Saya rindu kalian semua sahabat dan
saudaraku, Kempong, Magma Jidat, Deni Gajah, Sofi Lempung, Ableh,
Karyo, Yoyon, Ambon, Nophe, Erfan, Macho, Ihsan Kucing, Parvi tengik,
Refizal, Pramu changcutter, Ochid betawi asli, Sarkeh dan "my lost
brother" Ketip. Kembali ke jalan yang benar ya Tip, kami menunggumu
disitu. I miss you all, brothers …

Terima Kasih Ya Alloh …

Wednesday, August 20th, 2008

Terima
kasih ya Alloh, terima kasih atas umur yang Kau beri kembali hingga
tahun ini aku dapat bersyukur atas semua hidayah yang Kau berikan
padaku. Terima kasih atas kesehatan, Rejeki, dan lindungan-Mu selalu.
Terima Kasih atas keluarga kecilku yang indah, Istriku yang cantik dan
anakku yang elok. Terima Kasih ya Alloh.
Terima kasih ya Rabb,
sehingga pada 21 Agustus tahun ini aku dapat menikmati umur 33 tahunku.
Sebuah umur yang selalu belajar menuju proses dalam kematangan berpikir
dan berbuat.

Saya dan Vespa

Wednesday, August 20th, 2008

2008_03_31_bikepics1236275320Hidup saya tidak jauh dari sebuah kendaraan bernama Vespa! Sejak kecil
saya sudah terbiasa diajak berkeliling oleh bapak saya dengan naik
Vespa. Jenis Vespa yang dimiliki bapak saya saat itu adalah Super 150
tahun 1978 berwarna Coklat krem. Dan ketika saya menduduki SMA kelas 3,
kendaraan "semok" itu menjadi teman setiaku yang mengantarkanku ke
sekolah mengganti sepeda gunungku yang sudah 2 tahun lebih dahulu
menjadi tumpanganku ke sekolah.
Ketika saya mulai kuliah di Univ.
Muhammadiyah Malang, Vespa ini juga yang menemaniku beraktifitas. Dan
catnya-pun saya rubah menjadi kuning dan berhias gambaran pemandangan
hasil karya tanganku sendiri di bagian pantat kanan kirinya.
Saking
identiknya saya dengan Vespa satu itu, saudara-saudara saya di Keluarga
Pecinta Alam "DIMPA" memberikan nama pada Vespa saya tersebut,
"Belalang Tempur". Karena sering juga saya bawa jika ada kegiatan di
hutan dan gunung, asalkan ada jalan setapak berarti dapat saya lewati
bersama si Belalang Tempur. Mulai kegiatan Diklatsar, Caving, hingga
rafting, dia setia menemaniku. Hingga aku bekerja, si Belalang Tempur
sering saya ajak mengangkut perahu kayak inflatable
milikku untuk menuju camp sebelum pengarungan di Sungai Brantas -
Kendal Payak - Malang. Lebih asyik sendirian, untuk menikmati sebuah
kesendirian saat itu.
Ada juga Vespa jenis PS 150 Strada tahun 1987
yang juga menemani saya ketika bekerja. Mulai saya di Surabaya hingga
ke tempat "pertapaan" saya di Bojonegoro. Vespa yang awalnya berwarna
biru abau-abu kemudian tahun 2001 saya cat menjadi biru dongker. Bahkan
tahun 2004 saya lengkapi dengan boks di bagian belakangnya. tambah lucu
dan gagah. Vespa ini sering saya ajak berkendara jarak jauh, yang
paling sering adalah ke rumah nenek saya di Trenggalek. Bahkan pernah
saya ajak nyekar ke saudara seperjuangan kami di DIMPA, dari Malang ke
Ponorogo via Trenggalek. Seru! apalagi kalau pakai ngadat di tengah
jalan.
Vespa memang tidak pernah jauh dari darah keluarga kami.
Istri saya juga sering bepergian di Jakarta dengan menggunakan Vespa
bersama kakeknya. Kadang waktu-waktu tertentu saya dan istri saya
berkeliling kota Malang dengan Vespa, sekedar cari angin dan melepaskan
rindu akan masa-masa kuliah kami dulu. hihihi.

Saya Benci Sakit

Wednesday, August 20th, 2008

Saya salah satu orang yang paling benci kondisi sakit. Biasanya kalau
ada tanda-tanda sakit saya selalu melawannya dengan minum obat atau
vitamin. Dalam keluarga saya, sayalah yang paling sering dirawat di
Rumah Sakit. Mulai Demam Berdarah, Typhus, sampai kecelakaan yang harus
membuat saya terbaring sebulan di rumah sakit. Tapi semua itu, saya
pikir adalah takdir dan keharusan yang mungkin harus saya lewati.
Dengan saya sakit, Alloh memberikan tandanya bahwa Dia sayang dan
perhatian kepada saya. Dengan saya sakit, Alloh juga mungkin memberikan
peringatan kepada saya dan orang-orang disekitar saya. Dengan saya
sakit, banyak kejadian yang mengharukan, pertemuan yang tidak disangka,
dan mukjizat itu bekerja dari Alloh. Dengan saya sakit, saya
dipertemukan dengan calon istri saya ketika itu, hehehe.
Saya sakit,
sering tidak ada tandanya, tiba-tiba saja ambruk, panas tinggi, dan tak
berdaya. Masih ingat ketika saya terserang demam berdarah. Waktu itu
saya hampir KKN (Kuliah Kerja Nyata), sore hari seperti biasa saya
bersama teman-teman seperjuangan berlatih dayung di kolam kampus,
malamnya karena malam minggu masih bisa keliling-keliling ke rumah
teman sambil ngopi, dan tidur di kontrakan teman saya Magma di Jalak.
Tapi paginya, badan saya demam tinggi, sayapun memutuskan pulang, dan
siang harinya saya diangkut ke Rumah Sakit Lavalette. Akhirnya, saya
terlambat seminggu untuk menjalankan KKN tadi, dan nilai KKN saya
menjadi paling rendah dalam satu kelompok. hehehe.
Tapi
bagaimanapun, kondisi sakit bukanlah hal yang menyenangkan, bagi saya
sangat menyiksa. Itu sebabnya, jika dalam masa pergantian cuaca, jika
saya ingat, saya selalu berhati-hati. Karena biasanya di masa itu
siklus saya sedang pada rendah-rendahnya. Jadi, ya sering sakit juga,
walau sekedar terserang flu berat.