Sahabat dan Saudara

Saya sangat bersyukur sekali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan di Univ. Muhammadiyah Malang. Di kampus inilah saya mengenal
sebuah tempat yang kemudian membukakan mata saya dalam memaknai arti
persahabatan. Di sebuah organisasi yang bernama DIMPA. Sebuah
organisasi pecinta alam yang sistem keanggotaannya seumur hidup. Banyak
manusia unik dan beraneka ragam yang saya jumpai. Mulai Indonesia barat
hingga timur. Banyak pergulatan yang melibatkan banyak emosi dan cinta
dalam menghabiskan waktu kami bersama. Kadang kami menjadi "musuh",
kadang kami menjadi "sekutu". Terkadang kami sampai membanting meja
dalam sebuah rapat ketika tensi rapat naik, kadang kami saling
berpelukan sambil mengurai air mata. Kami benar-benar digulung dalam
permainan emosi yang membuat kami semakin paham arti persahabatan.
Kami
belajar bagaimana mendengar angkatan tua berbicara, disisi lain kami
juga harus menentang pendapat mereka. Ada sisi dimana kami harus
mendidik "adik-adik" kami dengan hati, ada kalanya dengan kemarahan
kami. Tapi pada akhirnya kami dapat belajar bagaimana kami memposisikan
diri terhadap mereka semua.
Saya menganggap angkatan saya (Angkatan
X /1993) dan angkatan di bawah saya (Angkatan XI/ 1994) merupakan dua
angkatan yang tak lekang persahabatannya. Kami boleh beda angkatan tapi
kami mayoritas dari angkatan kuliah yang sama. Dan karena itu pula kami
sering mengadakan kegiatan bersama, memimpin organisasi ini bersama
selama beberapa tahun. Kami sangat sering berdiskusi dan berkumpul
bersama. Kadang di warung Lestari belakang kampus, kalau malam dapat
pindah ke rumah saya di hamid rusdi, atau ke kontrakan Tapak Jalak, Kos
Sengkaling, rumah Kempong di Kauman kota Batu, atau sekedar merecokin
dan uji nyali di rumah Agus Ableh di Jl. Kasembon - kota Malang. Maklum
rumahnya banyak demitnya, dan si Ableh dengan cueknya nidurin tuh rumah
warisan sendirian. Saya sangsi kalau dia betul-betul "tatag" terhadap
tuh demit, tapi lebih dikarenakan kacamatanya yang setebal pantat
botol, sehingga cukup dengan membuka kacamatanya, buram sudah dunia.
Dan kami kumpul-kumpul tidak melulu serius, kadang kami main SEGA
hingga pagi (maklum PS belum ada).
Karena kami sudah seperti
saudara, selain kami begitu dihapal oleh keluarga kami, kitapun hapal
akan kebiasaan kami. Contohnya kala itu jika saya sudah emosi dan mau
marah, teman-teman selalu nyletuk "..he ndang dipinggirno tempat sampah
e, ancur mengko disepak-i tuwek..". Dan akhirnya saya-pun tersenyum
geli melihat tingkah mereka. Atau kebiasaan Misuh si Karyo yang asli
Sragen dengan "Bajirut.."-nya lengkap dengan style topi, kemeja dan
celana berwarna hitam. Nah inilah warna favorit buat kami saat itu,
hitam - hitam, entah karena biar awet dipakainya atau kalau kotor tidak
terlihat kumelnya. hehehe.
Pernah suatu ketika malam tahun baru,
saya lupa tahunnya, ketika itu seisi sekretariat laki-laki semua
(karena pukul 21.00 WIB sekretariat harus steril dari mahluk bernama
wanita). Dan ketika pukul mendekati 00.00 WIB, kami spontan berkumpul
dan berdiri dibawah wall climbing membentuk lingkaran. Entah siapa
awalnya yang memulai berbicara, tapi akhirnya pembicaraan di dalam
lingkaran malam itu menjadi ajang curhat dan permintaan maaf atas
keegoisan masing-masing individu. Hingga ketika tiba giliran Yoyon yang
berbicara terdengar suara sesenggukan, eh .. akhirnya semua sesenggukan
dan kami bersalaman dan berpelukan erat. Emosi kami malam itu begitu
haru biru, kami merasa lebih dari sekedar sahabat tetapi seperti
saudara. Saudara seperjuangan.
Saya rindu kalian semua sahabat dan
saudaraku, Kempong, Magma Jidat, Deni Gajah, Sofi Lempung, Ableh,
Karyo, Yoyon, Ambon, Nophe, Erfan, Macho, Ihsan Kucing, Parvi tengik,
Refizal, Pramu changcutter, Ochid betawi asli, Sarkeh dan "my lost
brother" Ketip. Kembali ke jalan yang benar ya Tip, kami menunggumu
disitu. I miss you all, brothers …

Leave a Reply