Dari Diklat Pengolahan Hutan Mangrove V

July 13th, 2007 by agusirwanto

Mangrove001
Tanggal
23 Mei hingga 6 Juni 2007 yang lalu saya mengikuti Diklat Pengelolaan
Hutan Mangrove Angkatan V di Kadipaten – Majalengka. Sudah setahun
saya mengincar diklat ini, dan saya juga sudah mengusulkan nama saya
untuk ikut diklat tersebut. Walaupun dengan perasaan tidak menentu,
karena istri saya sedang hamil 4 bulan ketika itu, dengan seijinnya
saya berangkat ikut diklat mangrove selama 15 hari.

Luar
biasa, itu yang saya rasakan. Selain banyak pengetahuan baru, yang
selama ini sangat terbatas pengetahuan saya tentang mangrove ini.
Banyak hal yang berkesan, utamanya ketika praktek di pesisir pantai
Desa Bangsri Kec. Bulakamba Kab. Brebes. Walaupun tidak jadi praktek
di Bali, yang menjadi rumor ketika diklat itu akan diadakan, tapi
saya rasa justru praktek kami kali ini lebih membuat saya jauh lebih
mengerti mengenai pengelolaan hutan mangrove daripada sekedar melihat
– lihat Balai Pengelolaan Hutan Mangrove dimana lokasi mangrove-nya
memang sudah jadi.

Banyak
hal yang sangat komplek yang ditemui guna membudayakan masyarakat
pesisir mengenal dan mengetahui fungsi mangrove, sehingga dalam
praktek kami tidak sedikit juga halangan yang menghadang. Tapi justru
keadaan yang begitulah membuat kami lebih mengerti dalam pengelolaan
mangrove, daripada sekedar praktek yang bersifat “jalan – jalan”.
Kami juga membuatkan tempat contoh persemaian benih mangrove pada
kelompok tani yang ada, dan yang paling menarik adalah ketika menanam
bibit mangrove di pantai desa tersebut. Sekedar catatan, pantainya
bukan pantai berpasir seperti umumnya, tetapi pantai berlumpur yang
dalamnya sepinggang orang dewasa. Tapi tantangan seperti itu yang
membuat kami dan “sebagian” peserta diklat semakin semangat untuk
menanamnya. Karena sejarah pantai tersebut sebelumnya, maka jenis
yang kami tanam adalah Avicennia marina dan Rhizophora
mucronata
. Penanaman kedua jenis mangrove ini bertujuan untuk
membuat green belt di pantai desa tersebut.

Banyak
potensi dan masalah yang di desa Bangsri tempat kami praktek, tapi
sebagai catatan utama saya, sebuah potensi yang besar adalah seorang
tokoh muda yang merupakan “kunci” utama berhasil tidaknya
mangrovisasi di desa tersebut. Seorang pemuda bernama Ahmad Jamil.
Dengan keinginan yang cukup kuat dan pengetahuan yang cukup luas
juga, saya yakin Jamil dapat membawa desa Bangsri menjadi lebih baik
keadaan mangrove – nya. Hanya saja halangan yang menghadang memang
cukup kompleks, utamanya dari aparat desanya yang kurang mendukung
dengan kebijakannya yang tidak bijak, juga intansi daerah yang
terkait yang terkesan “asal jalan”.

Dari
beberapa diklat atau pelatihan singkat, diklat inilah yang paling
menarik bagi saya. Bukan saja dari segi prakteknya, tapi juga orang –
orang di dalamnya yang menjadi peserta diklat yang 30 orang itu. Ada
beberapa orang yang menjadi icon dalam kegiatan diklat ini, maksudnya
jika orang – orang tersebut gak ada, pastilah sepi. Sebut
saja Mala dari Dinhut Lamongan, Musiri dari TN. Alas
Purwo, Nanang dari TN. Baluran dengan Simbada-nya yang
bikin asrama hingar bingar, dan Nyoto dari TN.
Merubetiri yang ngeyelan. Thank guys, dan jangan lupa
yel – yel yang ketiga jangan di ganti “… tebang tebang
tebang..”. hehehe. (Bojonegoro 12 Juli 2007)

ANAK JALANAN MALAS KARENA UANG ANDA

May 5th, 2007 by agusirwanto

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka.
Namun mereka tetap kembali kejalan. Mengapa? Karena Uang Anda ! Karena setiap hari mereka memperoleh “uang gampang”, paling sedikit Rp. 25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp. 750.000,-. Jumlah yang cukup besar, tidak heran mereka memilih untuk tetap di jalan.

Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap berada dijalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak Berpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.

Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi ?

BERHENTI MEMBERIKAN UANG KEPADA MEREKA!!!
Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannya kelak. Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No. 36/1990) :
• Hak untuk hidup
• Hak untuk tumbuh dan berkembang
• Hak untuk memperoleh perlindungan
• Hak untuk berpartisipasi

Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan2 yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan
mereka akan lebih baik dari sekarang ini.

TANA TORAJA

January 28th, 2006 by agusirwanto

Kilas_tongkonan_3 Pas melihat kembali beberapa cukilan foto ketika terkhir saya berkunjung ke tana leluhur saya, Toraja, saya jadi ingin nulis neh. Ketika itu saya ke Toraja sekeluarga, karena ada upacara penting, yakni upacara pemakaman Nenek Buyut saya yang sudah meninggal setahun sebelumnya. Nenek Kombong. Waktu itu sekitar bulan Juli 2004. Dengan perjalanan laut yang lamanya 1 hari 1 malam dari Pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Soekarno – Hatta, Makassar. Kami masih harus naik bis selama 8 jam ke Rantepao di kabupaten Tana Toraja.

            Exciting, gitu aja. Udara yang dingin, jauh lebih dingin dari kota Malang. Kemudian kota yang kecil, serta kendaraan yang sedikit. Saya menuju ke Gang Indosella, ke tempat famili kami yang kebetulan bertetanggaan dengan markas Indosella, operator wisata arung jeram di Rantepao ini.

            Dari sini, kami masih harus naik taksi (yah sebenarnya mikrolet) ke desa tempat buyut kami. Nama desanya Sumpia.walau matahari ada di ubun – ubun tapi sengatannya kurang terasa, karena udara di sini benar – benar dingin. Kami di sambut ibu saya (yang sudah berangkat terlebih dahulu beberapa minggu), saudara – saudara kami, yang ini pertama kalinya saya bertemu. Tapi terus terang rupanya nama saya sudah sampe duluan beberapa tahun dari orangnya, hehehe. Karena disini jika memanggil ibu atau nenek memakai nama dari anak / cucu pertama. Sedangkan saya adalah anak dan cucu pertama. Nama sudah lebih ngetop dulu. “ oh ini yang namanya agus…”,sering saya dengar dari saudara – saudara saya.

            Wah – wah gak muat deh nih blogs kalo saya harus cerita semua. Yang jelas, taraf hidup kita langsung turun. Gak pengen ngapa-ngapain. Bangun tidur, sholat (dari seluruh saudara yang datang, hanya kami yang keluarga muslim, Allahu Akbar!), nyamil, minum kopi arabika khas toraja, siangan dikit datang balo’, minuman (agak keras) khas toraja. Pokoknya sudah ada nasi di perut, gak bakal mabok deh, malah enak karena badan hangat. Hingga pukul 8, kabut masih menyelimuti desa ini.

            Upacara pemakaman ini berlangsung selama 4 hari dengan berbagai upacara, menaikkan jenazah ke panggung, terima tamu yang super duper ramai (karena turis juga banyak yang datang), tarian mabadong (tarian kematian, menurut saya), adu kerbau, pemotong kerbau yang seru banget, dan tentu upacara pemakaman itu sendiri dengan mengarak peti janazah ke Batupua, lokasi pemakaman yang besar yang terbuat dari gunung batu yang dilubangi. Desa ini juga rupanya tujuan para wisatwan asing karena ada Batupua dan Pana (kuburan tertua). Ketika saya datang, suasana di Pana sungguh ganjil, wah kayaknya aura saya gak cocok deh.

            Berhubung masa liburan yang sedikit, saya, bapak saya, dan rini adik saya, kami bertiga pulang terlebih dahulu ke Malang dengan naik Mandala (yang sekarang sudah almarhum). Sedang rina, ibu dan Dodon (pacar rina) masih bisa keliling dulu bersama saudara – saudara saya yang dari Kalimantan. Enak banget, jalan – jalan ke Makale, ke’te, dan lain – lain. Tapi paling tidak sebelum kami pulang sempat di jamu oleh om Panu’, pesta kapurung. Makanan khas toraja yang terbuat dari sagu. Hik … sedep deh.

            Oh iya, anda bisa lihat beberapa fotonya di bagian ALBUM FOTO sub bagian Toraja. Foto – foto tersebut dari jepretan kamera HP saya. Yang dari kamera SLR saya belum sempat saya scan. Jadi ya rada – rada burek, maklum dibawah 1 megapixel. Tak ada kata lain selain, ingin lagi kuinjakkan kakiku ke Toraja kembali.